Ketika melihat kondisi perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia sepuluh tahun belakangan ini, saya jadi teringat sejarah Amerika pada masa Depresi Besar di Amerika Serikat. Ketika tahun 1929 hingga 1939 adalah satu dekade yang sulit bagi orang – orang Amerika. Berawal dari petaka rontoknya harga stok pasar di New York Stock Exchange sekitar Oktober 1929. Kemudian susul menyusul dengan berbagai krisis hingga mengakibatkan ribuan investor tunggal merugi.
Selain itu pula Depresi Besar memaksa banyak bank gulung tikar, sekitar 11.000 dari 25.000 bank yang ada di Amerika Serikat bangkrut. Krisis tersebut diperburuk pula dengan menurunnya kepercayaan terhadap perekonomian dunia. Berbuntut PHK besar – besaran yang pada akhirnya juga menyebabkan bermacam dampak negatif dari unjuk rasa yang berujung kekerasan, kemiskinan, tajamnya perselisihan antar ras dan kriminalitas yang kian meningkat.
[Sepertinya hal serupa terjadi juga di Indonesia, tapi sayangnya Indonesia tidak mau belajar dari kegagalan Amerika Serikat mungkin karena gengsi malah jadinya mengulang kesalahan Amerika Serikat yang terjadi 79 tahun yang lalu. Makanya yang dipelajari jangan melulu gayanya doang. Gaya boleh global tapi kalo otak lokal ya podo bae, harusnya think global but act local alias mikir go internasional tapi perilaku ndeso bae, hehehe].
Seratus Hari Kerja yang Pertama
Balik maning ning sejarah, kegagalan presiden Amerika Serikat ke – 31, si mbah Herbert Hoover, dalam membuat kebijakan dan dalam bertindak membuat Amerika Serikat semakin terpuruk. Namun beruntungnya AS punya salah satu putra terbaiknya yaitu mbah Franklin Delano Roosevelt yang memiliki ide cemerlang dengan 100 hari kerjanya. Si mbah termotivasi dari tulisan Ekonom Inggris bernama eyang John Maynard Keynes. Bahwa pengurangan pembelanjaan pemerintah dapat memompa perekonomian dan bahkan memuluskan jalannya perekonomian. Mungkin ini juga yang diadaptasi oleh Presiden SBY ketika mencanangkan 100 hari kerja untuk mengambil langkah – langkah kongkrit saat beliau terpilih secara demokratis menjadi presiden RI.
Tindakan Perbankan
Setelah mencanangkan 100 hari kerja, di hari kedua jabatannya sebagai Presiden AS ke 32 ini, si mbah Roosevelt melakukan efesiensi dalam perbankan, beliau mengumumkan libur lima hari kerja untuk setiap bank alias tutup sementara pada tanggal 6 Maret 1933. Harapan mbah Roosevelt setelah istirahat sejenak dunia perbankan AS saat itu akan segar kembali.
Beberapa bulan kemudian mbah Roosevelt membuktikan pemikirannya, dunia perbankan AS memperlihatkan perkembangan yang baik. Kemudian untuk membangkitkan semangat rakyat AS saat itu mbah Roosevelt langsung bikin “live interview “lewat radio agar tersiar ke 50 juta pendengar dengan harapan mengembalikan kepercayaan rakyat AS dan mendepositkan lagi uang mereka ke bank – bank yang baru.
Langkah lain yang digunakan oleh mbah Roosevelt di Kesepakatan Baru Pertama adalah CCC (Conservation Civilian Corp), FERA (Federal Emergency Relief Administration), CWA (Civil Works Administration), AAA (Agricultural Adjusment Administration, TVA (Tennessee Valley Authority).
Perhimpunan Konservasi Sipil
CCC atau Perhimpunan Konservasi Sipil bekerja untuk memperbaiki dan membangun infrastruktur seperti pembangunan jalan umum, proyek penghijauan, pengendalian banjir dan memperbaiki taman nasional. Proyek CCC ini berjalan sekitar 9 tahun dengan menggunakan tenaga pengangguran sekitar 3 juta orang yang pada akhirnya mendapatkan pekerjaan dengan upah 30 dolar AS perbulan saat itu.
Bantuan Administrasi Darurat Pemerintah
FERA atau Bantuan Administrasi Darurat Pemerintah [ini tidak lain halnya dengan BLT atau Bantuan Langsung Tunai yang dilakukan pemerintah Indonesia saat ini sebagai dampak dari kenaikan BBM]. Sekitar Mei 1933 FERA mengucurkan dana sekitar 500 juta dolar AS dengan asumsi setengahnya untuk menutup kebangkrutan dan hutang AS lalu setengah yang lain dibagikan 3 dolar AS untuk setiap orang secara langsung. Di sisi lain, FERA juga membuat CWA atau Pekerja Sipil Administrasi yang mengurus pembagian bantuan secara langsung ke rakyat AS.
Pengaturan Administrasi Pertanian
Untuk membantu petani AS, mbah Roosevelt saat itu menggagas adanya AAA [Agricultural Adjustment Administration] atau Pengaturan Administrasi Pertanian dengan mengatur ulang harga komoditas pertanian, seperti jagung, gandum, beras, susu, katun dan ternak dan memberi subsidi pada petani untuk mengurangi produksi pertanian dan menyelaraskan kembali harga dan persediaan. Ironis memang dibandingkan dengan masa sebelum depresi, ketika itu produksi berlebihan sehingga produk pertanian membanjiri pasar sehingga menjadikan harga produk pertanian menjadi rendah. Efek berantainya menyebabkan petani AS memproduksi lebih untuk mengejar omset dengan harga rendah.
Nah, dengan adanya Pengaturan Administrasi Pertanian, petani lebih dihargai dengan dibayar ekstra untuk menurunkan jumlah produksi agar harga stabil kembali. Selain itu, PAP juga mengucurkan Kredit Pertanian untuk menyediakan pinjaman bagi petani yang bangkrut. Meskipun banyak kritik dan kecaman yang muncul dari berbagai lapisan terutama pemilik lahan pertanian namun pada akhirnya PAP terbukti jitu menstabilkan harga produk pertanian.
Otoritas Lembah Tennessee
Para wakil rakyat AS pun membuat TVA [Tennessee Valley Authority] yang memiliki target untuk meningkatkan teknologi dan mengurangi pengangguran di Lembah Sungai Tennessee, sebuah wilayah termiskin dan yang paling terkena dampak krisis di AS. Agensi yang ada pada saat itu menyewa tenaga lokal untuk membangun bendungan dan pembangkit listrik tenaga air sehingga dapat memasok listrik yang murah ke ribuan orang. Selain itu pula perusahaan umum menciptakan perumahan karyawan yang terjangkau, memproduksi pupuk murah, dan pengeringan ribuan hektar lahan untuk pertanian.
Seperti halnya AAA, TVA juga menuai kontroversi yang tinggi. Banyak kaum konservatif yang menuding bahwa produksi listrik pemerintah adalah bentuk halus dari Sosialisme dan mengacaukan harga pasar. Persaingan perusahaan listrik pun meruncing sehingga TVA terkena dampak yang dalam. Meski begitu pemerintah tetap menjadikan proyek Tennesseeadalah sebagai percontohan yang pada akhirnya dibuat lagi proyek serupa di daerah Barat dan Selatan AS. Terhitung satu dekade pada akhirnya banyak sungai besar di AS yang dijadikan pembangkit listrik yang pada akhirnya memasok listrik dan lapangan kerja.
Pemulihan Industri Nasional
Pada tahun 1933 Pemulihan Industri Nasional adalah upaya awal dari pemerintah AS untuk menghidupkan kembali perekonomian secara menyeluruh. Pernyataan tersebut dibuat sebagai bentuk motivasi terhadap dunia perindustrian agar dapat meningkatkan persaingan industri yang sehat. Sesuai dengan teori ekonomi Keynesia, mbah Roosevelt yakin bahwa dengan meningkatkan prasarana umum akan dapat menambah keuangan di dalam perekonomian.
Restrukturisasi Keuangan Amerika
Mbah Roosevelt pada akhirnya juga melobi kongres untuk menetapkan regulasi baru pada sektor keuangan perekonomian. Langkah lain yang diambil si mbah Roosevelt adalah meniadakan standar emas dengan mengijinkan warga AS dan warga asing menukar mata uang dengan emas. Untuk mencegah penimbunan emas maka si mbah Rooseveltakhirnya memerintah untuk menyerahkan persediaan emas swasta untuk ditukar dengan uang.
Tiga R [Resistance, Rebellion dan Revolution] dan Warisan Mereka
Ternyata mbah Roosevelt dan kabinetnya tidak serta merta melaksanakan tugasnya dengan mulus, sebab meski formula pemikiran mbah Roosevelt dapat sedikit demi sedikit memulihkan kondisi sosial dan ekonomi di Amerika bukan berarti tidak ada gangguan berupa perlawanan, pemberontakan, dan revolusi dari berbagai kelompok tertentu, seperti halnya bisnis besar atau serikat buruh yang mengganggu secara terus menerus agar terjadi perubahan, sehingga membuat mbah Roosevelt dan pemerintahannya merasa berjalan melawan arus.
Meskipun begitu, kebijakan Kesepakatan Baru telah mengembalikan stabilitas AS sebagai sebuah Negara dan mbah Roosevelt dan pemerintahannya telah mewariskan sebuah Negara yang terkelola dengan baik yang secara drastis mengubah peraturan pemerintahan federal baik dalam politik maupun masyarakat. Mbah Roosevelt telah berhasil menerapkan teori ekonomi Keynes yang ditransformasikan oleh partai Demokrat ke dalam pendukung kesejahteraan sosial masyarakat.
Pemerintah Indonesia Harus Lebih Memperhatikan Pendidikan
Melihat kemajuan Amerika Serikat di segala bidang saat ini tidak lepas begitu dari introspeksi diri bangsa AS dari sejarah. Mereka sadar betul arti pentingnya pendidikan. Dengan pendidikan yang baik dan memadai mereka berkembang pesat menjadi Negara yang lebih baik dari masa lalunya. Dengan pendidikan mereka membuka wawasan dunia menjadi lebih luas, mempelajari dunia dan menguasainya.
Seharusnya Indonesia iri bukan pada hasil yang mereka buat dan yang terlihat saat ini namun iri pada proses perjuangan bangsa Amerika yang mampu membangun AS sebagai Negara adidaya di dunia dengan latar belakang suku bangsa yang lebih beragam apabila dibandingkan dengan Indonesia [jangan tersinggung ya].
Maka sudah seharusnya pemerintah Indonesia lebih konsen lagi memperhatikan mutu pendidikan di Indonesia. Sadar bahwa tindakan hari ini dapat menjadi sangat berarti 50 – 100 tahun yang akan datang atau malah sebaliknya tentu tergantung dari sepak terjang pemerintahan saat ini. Tentunya kita semua berharap bahwa sepuluh dekade ke depan adalah masa yang jauh dan jauh lebih baik dari masa sekarang.
Jika saja mutu pendidikan di Indonesia hari ini sudah ideal, tentu sudah dari jauh hari seluruh rakyat Indonesia sudah belajar tentang kegagalan Amerika era 1929 – 1939. Sehingga mungkin detik ini juga, Indonesia jauh lebih baik dalam segala bidang. Tidak terpuruk seperti saat ini dan mengulang lagi era 1929 – 1939 saat Amerika menderita karena The Great Depression-nya.
~HaryoNW~
*Publish ulang, setelah 4 tahun berlalu ternyata masih relevan*




